EVALUASI RASIONALITAS POLA PERESEPAN DAN KEBERHASILAN TERAPI ASMA DEWASA DI RSUD TABANAN
Isi Artikel Utama
Abstrak
Asma merupakan penyakit saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan kronis sehingga menyebabkan pembengkakan dan penyempitan jalan napas yang dapat meningkatkan hiperresponsivitas saluran pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas pola peresepan, khususnya ketepatan obat, serta mengetahui keberhasilan terapi pada pasien asma dewasa di RSUD Tabanan. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data retrospektif dari rekam medis pasien asma yang menjalani terapi di RSUD Tabanan pada periode Januari 2024–Desember 2025. Metode pengambilan sampel menggunakan total sampling dan diperoleh 30 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan dengan membandingkan kesesuaian pola peresepan terhadap nilai fungsi paru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada pada rentang usia 19–59 tahun (73,33%) dan didominasi oleh perempuan (70%). Ketepatan pola peresepan menunjukkan ketepatan obat sebesar 90%, karena masih terdapat penggunaan SABA tunggal tanpa dikombinasikan dengan ICS. Berdasarkan tingkat kontrol asma, sebanyak 13,33% pasien mencapai asma terkontrol, 23,33% mencapai asma terkontrol sebagian, dan 63,33% belum mencapai asma terkontrol. Gambaran penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien asma di RSUD Tabanan telah menerima pola peresepan yang tepat berdasarkan PDPI 2021. Namun, sebagian besar pasien belum mencapai kondisi asma terkontrol, yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ketepatan teknik penggunaan inhalasi dan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi.
Kata Kunci: asma dewasa, rasionalitas pola peresepan, keberhasilan terapi
ABSTRACT
Asthma is a respiratory disease characterized by chronic airway inflammation that causes airway swelling and narrowing, leading to increased airway hyperresponsiveness. This study aimed to evaluate the rationality of prescribing patterns, particularly the appropriateness of drug selection, and to determine therapeutic outcomes in adult asthma patients at Tabanan Regional General Hospital. This observational study employed a cross-sectional approach using retrospective data obtained from the medical records of asthma patients who received treatment at Tabanan Regional General Hospital during the period of January 2024 to December 2025. The sampling method used was total sampling, and 30 patients who met the inclusion and exclusion criteria were included in the study. Data analysis was conducted by comparing the appropriateness of prescribing patterns with pulmonary function values. The results showed that the majority of patients were aged 19–59 years (73.33%) and were predominantly female (70%). The appropriateness of prescribing patterns demonstrated 90% accuracy in drug selection, although there were still cases of short-acting beta-agonist (SABA) monotherapy without combination therapy with inhaled corticosteroids (ICS). Based on asthma control levels, 13.33% of patients achieved well-controlled asthma, 23.33% achieved partly controlled asthma, and 63.33% remained uncontrolled. The findings indicate that most asthma patients at Tabanan Regional General Hospital received appropriate prescribing patterns according to the 2021 Indonesian Asthma Management Guidelines (PDPI). However, the majority of patients had not yet achieved controlled asthma status, which may be influenced by various factors, including improper inhaler technique and poor adherence to therapy.