JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK <p style="text-align: justify;">Jurnal <strong>FARMASAINKES: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan</strong> dengan Nomor <strong>E-ISSN </strong><a title="issn brin" href="https://issn.brin.go.id/terbit?search=2807-114X"><strong>2807-114X</strong></a> adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah Medan sejak Agustus 2021, dengan Edisi Pertama Volume 1 Nomor 1, Agustus 2021. Jurnal <strong>FARMASAINKES</strong> terbit 2 kali setahun, setiap bulan Februari dan Agustus. Jurnal <strong>FARMASAINKES</strong> menerima artikel berupa hasil penelitian dan karya ilmiah dalam bidang Ilmu Farmasi, Sains dan Kesehatan. Jurnal <strong>FARMASAINKES</strong> adalah Jurnal Penelitian Ilmu Farmasi, Sains dan Kesehatan yang merupakan Jurnal Akses Terbuka Nasional dan Internasional, menyediakan Platform untuk melaporkan inovasi, teknologi, inisiatif, dan penerapan pengetahuan ilmiah untuk semua aspek penelitian farmasi, sains, kedokteran, klinis dan ilmu kesehatan terkait.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Alamat Editor</strong> : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al- Washliyah, Jl. Garu II A No. 93, Harjosari I, Kec. Medan Amplas, Kota Medan, Sumatera Utara 20147.&nbsp;<strong>Email</strong> : umnaw.farmasainkes@gmail.com</p> en-US umnaw.farmasainkes@gmail.com (apt. Ainil Fithri Pulungan) harismunandarnst15@gmail.com (apt. Haris Munandar Nasution, S. Farm., M. Si) Tue, 04 Aug 2026 17:05:17 +0000 OJS 3.1.2.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PENENTUAN KADAR ALKALOID EKSTRAK KULIT KAYU RARU SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT NON POLAR https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6822 <p>Kulit kayu raru&nbsp; yang memiliki senyawa bioaktif yang dapat digunakan sebagai antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk &nbsp;menentukan kadar alkaloid dalam ekstrak Kulit Kayu Raru (<em>Cotylelobium lanceolatum</em> Craib) dengan pelarut etanol dan metanol serta menentukan aktivitas antibakteri isolat dengan pelarut non polar.</p> <p>Penelitian yang dilakukan meliputi ekstraksi simplisia kulit kayu raru dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol dan metanol. Ekstrak yang dihasilkan diekstraksi cair-cair dengan pelarut kloroform untuk mendapatkan isolat alkaloid. Kemudian isolat diuji aktivitasnya terhadap uji antibakteri. Penelitian ini merupakan fundamental yang direncanakan dilakukan dalam satu tahun dan merupakan kelanjutan penelitian tahun sebelumnya. Penelitian ini menggunakan dana internal Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Adapun Tingkat Kesiapan Teknologi dalam penelitian ini adalah 2.</p> <p>Hasil penelitian ini adalah senyawa alkaloid dari ekstrak kulit kayu raru dapat difraksinasi dengan ekstraksi cair-cair pelarut kloroform. Hasil fraksinasi diidentifikasi menggunakan spektroskopi FT-IR hasil identifikasi mengandung gugus fungsi N-H, C-N, C=O, C=C Aromatik, dan C=O Tajam, yang menandakan teridentifikasi mengandung senyawa alkaloid. Kadar senyawa alkaloid ditentukan dengan Spektrofotometri UV, fraksi kloroform ekstrak etanol dan metanol masing-masing adalah 18,9491± 0,09222956, dan 21,0325 ± 0,098274937 µg/g. Fraksi alkaloid ekstrak kulit kayu raru memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri <em>Escherichia coli </em>dan <em>Staphylococcus aureus </em>dengan zona hambat terbaik yaitu konsentrasi 50%</p> Anny Sartika Daulay Copyright (c) 2026 Anny Sartika Daulay Sri Wahyuni, Ridwanto, Ihsan Fadhilah, Shakila Salwa https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6822 Sat, 01 Aug 2026 00:00:00 +0000 AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN MARBOSI-BOSI (Tarenna polycarpa (Miq.) Koord. Ex Valeton) TERHADAP BAKTERI Staphyloccocus epidermidis https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6423 <p>Tumbuhan Marbosi-bosi (<em>Tarenna polycarpa</em> (Miq.) Koord. ex Valeton) merupakan tanaman lokal yang secara tradisional digunakan dalam pengobatan. Daunnya mengandung berbagai senyawa metabolit yang berpotensi sebagai antibakteri, antiinflamasi, dan antidislipidemia. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji kandungan metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri terhadap <em>Staphylococcus epidermidis</em>. Penelitian ini melibatkan melalui beberapa tahap, yaitu pengolahan bahan tumbuhan, pembuatan ekstrak etanol metode maserasi menggunakan etanol 96%, skrining fitokimia serta pengujian aktivitas antibakteri terhadap <em>Staphylococcus epidermidis</em> melalui metode difusi cakram. Hasil skrining fitokimia menunjukkan daun marbosi-bosi positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid/steroid. Hasil uji aktivitas antibakteri rata-rata menunjukkan zona hambat dengan konsentrasi 15%&nbsp; (11.65 mm), 30% (13.33 mm), 45% (14.36) dan Kontrol positif (22.4 mm). Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat diketahui daun marbosi-bosi berpotensi sebagai antibakteri terhadap <em>Staphylococcus epidermidis </em><em>dan tergolong zona hambat yang &nbsp;kuat. </em></p> warhamni anatasya sirait, Haris Munandar Nasution, Rafita Yuniarti, Zulmai Rani Copyright (c) 2026 Warhamni Anatasya Sirait, Haris Munandar Nasution, Rafita Yuniarti, Zulmai Rani https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6423 Tue, 04 Aug 2026 15:49:34 +0000 Formulasi dan Karakterisasi Fisik Salep Nanopartikel Ekstrak Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L.) https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6424 <p>Daun bandotan (<em>Ageratum conyzoides</em> L.) diketahui mengandung beragam senyawa metabolit sekunder yang berpotensi dikembangkan dalam sediaan topikal, salah satunya dalam bentuk salep. Penerapan sistem nanopartikel pada formulasi sediaan diketahui mampu meningkatkan karakteristk fisik serta stabilitas produk. Penelitian ini bertujuan untuk merancang formulasi salep berbasis nanopartikel ekstrak daun bandotan dan menilai pengaruh variasi konsentrasi ekstrak terhadap karakteristik fisik serta stabilitas sediaan. Karakterisasi nanopartikel dilakukan penggunakan Particle Size Analyzer untuk menentukan ukuran partikel, selanjutnya nanopartikel ekstrak dimasukkan ke dalam basis salep dengan tiga variasi konsentrasi ekstrak serta satu formula blanko sebagai kontrol. Evaluasi sifat fisik sediaan dilakukan melalui pengamatan organoleptik, uji homogenitas, pengukuran pH, daya sebar, dan viskositas selama penyimpanan. Data hasil pengujian dianalisis secara statistik menggunakan <em>One Way</em> ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi ekstrak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap &nbsp;nilai pH dan viskositas sediaan (p&lt;0,05). Pada parameter daya sebar juga ditemukan perbedaan signifikan setelah penyimpanan hari ke-14 hingga hari ke-28. Secara keseluruhan seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik sediaan topikal serta menunjukkan stabilitas yang baik selama masa penyimpanan. Disimpulkan bahwa variasi konsentrasi nanopartikel ekstrak daun bandotan berpengaruh terhadap karakteristik fisik salep nanopartikel ekstrak yang dihasilkan.</p> Cikal Azura, Gabena Indrayani Dalimunthe, Minda Sari Lubis, Haris Munandar Nasution Copyright (c) 2026 Cikal Azura, Gabena Indrayani Dalimunthe, Minda Sari Lubis, Haris Munandar Nasution https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6424 Tue, 04 Aug 2026 15:51:28 +0000 KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK ETANOL DAUN KERSEN (Muntingia calabura L.) SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ANTIBAKTERI PENYEBAB JERAWAT https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6474 <p>Kersen (<em>Muntingia calabura </em>L.) merupakan tumbuhan liar yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat dikarenakan adanya kandungan senyawa metabolit sekunder tertentu yang dapat digunakan sebagai antibakteri penyebab jerawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan senyawa metabolit sekunder ekstrak daun kersen. Sampel daun kersen diperoleh dari Saentis, Sumatera Utara, kemudian diolah menjadi simplisia kering dan dimaserasi menggunakan etanol 70%, dan dilakukan uji skrining fitokimia serta uji karakteristik simplisia. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kersen positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan steroid yang dimana senyawa tersebut berperan sebagai antibakteri penyebab jerawat, sedangkan hasil karakterisasi simplisia daun kersen menunjukkan bahwa simplisia daun kersen memenuhi syarat MMI hal ini berarti tidak adanya zat pengotor yang terdapat didalam simplisia daun kersen tersebut. Kesimpulannya, daun kersen merupakan tanaman obat yang dapat dimanfaatkan&nbsp; sebagai antibakteri penyebab jerawat karena adanya kandungan senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid.</p> Angelina Maghvira Ananda, Cut Intan Annisa Putri, Gabena Indrayani Dalimunthe, Minda Sari Lubis Copyright (c) 2026 Angelina Maghvira Ananda, Cut Intan Annisa Puteri, Gabena Indrayani Dalimunthe, Minda Sari Lubis https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6474 Tue, 04 Aug 2026 15:52:46 +0000 EVALUASI RASIONALITAS POLA PERESEPAN DAN KEBERHASILAN TERAPI ASMA DEWASA DI RSUD TABANAN https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6776 <p>Asma merupakan penyakit saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan kronis sehingga menyebabkan pembengkakan dan penyempitan jalan napas yang dapat meningkatkan hiperresponsivitas saluran pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas pola peresepan, khususnya ketepatan obat, serta mengetahui keberhasilan terapi pada pasien asma dewasa di RSUD Tabanan. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data retrospektif dari rekam medis pasien asma yang menjalani terapi di RSUD Tabanan pada periode Januari 2024–Desember 2025. Metode pengambilan sampel menggunakan total sampling dan diperoleh 30 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan dengan membandingkan kesesuaian pola peresepan terhadap nilai fungsi paru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada pada rentang usia 19–59 tahun (73,33%) dan didominasi oleh perempuan (70%). Ketepatan pola peresepan menunjukkan ketepatan obat sebesar 90%, karena masih terdapat penggunaan SABA tunggal tanpa dikombinasikan dengan ICS. Berdasarkan tingkat kontrol asma, sebanyak 13,33% pasien mencapai asma terkontrol, 23,33% mencapai asma terkontrol sebagian, dan 63,33% belum mencapai asma terkontrol. Gambaran penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien asma di RSUD Tabanan telah menerima pola peresepan yang tepat berdasarkan PDPI 2021. Namun, sebagian besar pasien belum mencapai kondisi asma terkontrol, yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ketepatan teknik penggunaan inhalasi dan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong><strong><em>asma dewasa</em></strong><strong>, rasionalitas pola peresepan, keberhasilan terapi</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p>Asthma is a respiratory disease characterized by chronic airway inflammation that causes airway swelling and narrowing, leading to increased airway hyperresponsiveness. This study aimed to evaluate the rationality of prescribing patterns, particularly the appropriateness of drug selection, and to determine therapeutic outcomes in adult asthma patients at Tabanan Regional General Hospital. This observational study employed a cross-sectional approach using retrospective data obtained from the medical records of asthma patients who received treatment at Tabanan Regional General Hospital during the period of January 2024 to December 2025. The sampling method used was total sampling, and 30 patients who met the inclusion and exclusion criteria were included in the study. Data analysis was conducted by comparing the appropriateness of prescribing patterns with pulmonary function values. The results showed that the majority of patients were aged 19–59 years (73.33%) and were predominantly female (70%). The appropriateness of prescribing patterns demonstrated 90% accuracy in drug selection, although there were still cases of short-acting beta-agonist (SABA) monotherapy without combination therapy with inhaled corticosteroids (ICS). Based on asthma control levels, 13.33% of patients achieved well-controlled asthma, 23.33% achieved partly controlled asthma, and 63.33% remained uncontrolled. The findings indicate that most asthma patients at Tabanan Regional General Hospital received appropriate prescribing patterns according to the 2021 Indonesian Asthma Management Guidelines (PDPI). However, the majority of patients had not yet achieved controlled asthma status, which may be influenced by various factors, including improper inhaler technique and poor adherence to therapy.</p> <p>&nbsp;</p> Putu Ika Indah Indraswari, Putu Listya Dewinta Pratiwi, Pande Made Ayu Aprianti Copyright (c) 2026 Putu Ika Indah Indraswari, Putu Listya Dewinta Pratiwi, Pande Made Ayu Aprianti https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6776 Tue, 04 Aug 2026 15:54:29 +0000 SKRINING FITOKIMIA DAN KARAKTERISTIK FISIK SAMPO EKSTRAK KULIT BUAH RENGGAK (Ammomum Dealbatum Roxb.) https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6791 <p>The peel of Renggak fruit (<em>Amomum dealbatum </em>Roxb.) has been shown to contain bioactive metabolites with potential as active ingredients in shampoo formulations. This study aims to conduct phytochemical screening and evaluate the physical characteristics of a shampoo formulation containing Renggak peel extract. Extraction was performed by maceration using 96% ethanol as the solvent. Ethanol extract was incorporated into the shampoo formulations at final extract concentrations of 1.1% (F1), 1.65% (F2), and 2.2% (F3), based on the total formulation mass. Phytochemical screening was based on the identification of alkaloids, flavonoids, and saponins. The physical characteristics tests included organoleptic evaluation, pH, viscosity, and foam height. The results showed that the ethanol extract of Renggak peel contains alkaloids, flavonoids, and saponins. In addition, the physical characteristics tests indicated that all three formulations had good organoleptic properties, and their pH, viscosity, and foam height were within the standard range for shampoo preparations. Based on the results, it can be concluded that Renggak fruit peel extract has the potential to be formulated into a shampoo preparation with good physical characteristics and in accordance with shampoo quality standards.</p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong>: Shampoo, Renggak peel extract, phytochemical screening, physical characteristics</p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> Hawani Sahira, Dewi Yuliana Rizqi, Jihan Maftuuhatus Zhura, Lalu Rizki Fauzi Copyright (c) 2026 Hawani Sahira, Dewi Yuliana Rizqi, Jihan Maftuuhatus Zhura, Lalu Rizki Fauzi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6791 Tue, 04 Aug 2026 15:55:48 +0000 A ANALISIS KANDUNGAN ZAT KAPUR (CaCO3) PADA AIR MINUM SUMUR MENGGUNAKAN METODE TITRASI KOMPLEKSOMETRI DAN SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (SSA) https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6793 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Air minum yang aman merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat untuk menunjang kesehatan. Di Negeri Tulehu, sebagian besar masyarakat masih mengonsumsi air minum dari sumur, yang diduga mengandung zat kapur (CaCO3). Kandungan zat kapur berlebih dalam air dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti gangguan saluran kemih dan batu ginjal. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini untuk mengetahui kandungan zat kapur (CaCO3) pada air minum sumur negeri tulehu. <strong>Metode</strong>: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dengan metode titrasi kompleksometri dan spektrofotometri serapan atom (SSA). Dimana Sampel diambil dari tiga sumur berbeda di Negeri Tulehu dan diuji di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Alat Kesehatan Provinsi Maluku. <strong>Hasil</strong> : Hasil dari uji kandungan zat kapur (CaCO3) menunjukan dari 3 sampel yang telah diteliti mengandung zat kapur (CaCO3) dan kadar zat kapur (CaCO3) pada sampel satu 175,5 mg/l, pada sampel dua yaitu 156,6 mg/l, dan sampel ketiga memiliki kadar 54,9 mg/l.&nbsp; <strong>Kesimpulan</strong>: Dari 3 sampel yang telah diteliti mengandung zat kapur (CaCO3) dan kadar zat kapur (CaCO3) masih dibawah batas maksimum yang diperoleh yaitu 500 mg/l dan memenuhi standar baku zat kapur (CaCO3) sesuai parameter kimia menurut Permenkes RI No.492/Menkes/Per/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.</p> <p><strong>Kata kunci: Air Sumur, Zat Kapur (CaCO3), SSA.</strong></p> Nurhidayah Copyright (c) 2026 Nurhidayah, Nugraha Alif Prasetiyo, Sisca Latue, Cut Bidara P Umar, Eka Fitri Adriani, Dian Putri, Anatje Pattipeilohy https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6793 Tue, 04 Aug 2026 15:58:17 +0000 TABLET FORMULATION OF ETHANOLIC EXTRACT FROM RED DRAGON FRUIT (Hylocereus costaricensis) PEEL USING CASSAVA STARCH AS THE DISINTEGRANT https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6835 <p><strong><em>Introduction:</em></strong><em> Red dragon fruit peel (Hylocereus costaricensis) contains antioxidant compounds that can be utilized as active substances in tablet preparations. <strong>Objective:</strong> The purpose of this study was to determine the effect of variations in the concentration of manihot amylum as a crushing agent on the physical properties of tablets of ethanol extract of H. costaricensis fruit peel by wet granulation<strong>. Methods:</strong> Ethanol extract of H. costaricensis fruit peel was made by maceration method then phytochemical screening and antioxidant activity test using DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) method. Tablets of ethanol extract of H. costaricensis fruit peel were made in 3 formulas based on manihot amylum concentration, namely 10 (F1), 15 (F2) and 20% (F3). <strong>Results:</strong> The results showed that the IC50 value of the ethanol extract of H. costaricensis fruit peel was 252.31 ppm. Variations in the concentration of manihot amylum as a crushing agent affect the physical properties of tablets, namely the optimum formula F2 (15%) with a hardness test result of 5 Kg, a friability test of 0.95% and a disintegration time test of 4.25 seconds; F3 (20%) with a hardness test result of 5.1 Kg, a friability test of 0.58% and a destruction time test of 7.10 seconds and F1 (10%) with a hardness test of 5.5 Kg, a friability test of 0.42% and a destruction time test of 8.30 seconds. <strong>Conclusions:</strong> Ethanol extract of red dragon fruit peel (Hylocereus costaricensis) can be formulated into tablet preparations with manihot amylum as a crushing agent. </em></p> Nurullah Asep Abdilah, Dwi Astuti, Usman Setiawan Copyright (c) 2026 Dwi Astuti, Nurullah Asep Abdilah, Usman Setiawan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6835 Tue, 04 Aug 2026 00:00:00 +0000 OPTIMASI KRIM EKSTRAK DAUN PAKIS SAYUR (Diplazium Esculetum) VARIASI ASAM STEARAT DAN TRIETANOLAMIN SEBAGAI ANTIOKSIDAN SIMPLEX-LATTICE-DESIGN https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6864 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kulit manusia setiap hari terpaparan polusi udara, radiasi matahari dan polutan dapat menyebabkan terjadinya radikal bebas seperti ROS (Reactive Oxygen Spesies), faktor tersebut membuat kulit menjadi kering. Penggunaan antioksidan secara topikal menjadi solusi dimana daun pakis sayur berperan sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kombinasi asam stearat dan trietanolamin terhadap krim, menentukan formula terbaik dari dua kombinasi serta menguji aktivitas antioksidan dari formula terbaik. Penelitian ini mengunakan design expert 13 yaitu perangkat lunak untuk mengoptimasi dua kombinasi antara asam stearat dengan trietanolamin pada krim ekstrak daun pakis sayur (Diplazium esceluntum). Penelitian dilakukan uji evaluasi meliputi uji sifat fisik (organoleptis, viskositas, homogenitas, uji pH, uji daya sebar, daya lekat, dan tipe krim) serta uji dpph.</p> <p>Hasil pengujian design expert 13 terhadap sifat fisik (viskositas, pH, daya sebar, daya lekat), dari krim menunjukkan berpengaruh signifikan dengan syarat nilai p=&lt;0,05. Formula optimum diperoleh dengan perbandingan asam stearat dan trietanolamin (8:2) dan uji sifat fisik (organoleptis, viskositas, homogenitas, daya sebar dan daya lekat) telah memenuhi syarat, uji pH menunjukkan hasil nilai pH pada rentang 4,55 – 5,5 (memenuhi syarat). Uji aktifitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC<sub>50</sub> sebesar ppm 27-30 ppm</p> <p>&nbsp;</p> Jupita Aulia Copyright (c) 2026 Jupita Aulia, Gina Lestari, Tri Yanuarto https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6864 Tue, 04 Aug 2026 16:00:42 +0000 ANALISIS KANDUNGAN PARACETAMOL DAN METAMPIRON PADA SEDIAAN JAMU PEGAL LINU YANG BEREDAR DI PASAR KOTA BENGKULU DENGAN METODE HPLC https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6841 <p>Peredaran jamu tradisional yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) secara ilegal marak terjadi dan mengancam kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi serta menetapkan kadar paracetamol dan metampiron pada 10 sampel jamu pegal linu kemasan serbuk di tiga pasar utama Kota Bengkulu menggunakan metode <em>High Performance Liquid Chromatography</em> (HPLC).Tahap awal pengujian meliputi uji organoleptis dan uji kualitatif melalui reaksi warna dan penegasan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Sampel yang menunjukkan hasil positif kemudian dianalisis secara kuantitatif menggunakan instrumen HPLC dengan fase gerak metanol dan aquadest (60:40).Hasil identifikasi menunjukkan seluruh sampel negatif terhadap kandungan metampiron. Sedangkan, 2 dari 10 sampel jamu pegal linu (kode J7 dan J8) positif mengandung paracetamol dengan nilai Rf yang identik terhadap baku pembanding (Rf standar = 0,56; J7 = 0,55; J8 = 0,56). Analisis kuantitatif HPLC, diperoleh rata-rata kadar paracetamol yang sangat tinggi, yaitu sebesar 90,7% pada tiap 10 mg sampel J7 dan 47,5% pada tiap 10 mg sampel J8. Temuan ini mengonfirmasi adanya pelanggaran regulasi yang melarang keras penambahan BKO ke dalam jamu.</p> Tati kusmini Copyright (c) 2026 Tati Kusmini, Herlina, Ariesa Oktamauri, Elly Mulyani https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6841 Tue, 04 Aug 2026 16:02:07 +0000 VALIDASI METODE DAN ANALISIS RHODAMIN B PADA SAOS DI PASARAN KOTA BENGKULU MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6843 <p>Rhodamin B merupakan zat pewarna sintetis yang dilarang penggunaannya pada pangan karena bersifat toksik dan dapat membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi secara terus-menerus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan serta menentukan kadar Rhodamin B pada sampel saos yang beredar di Kota Bengkulu. Penelitian dilakukan secara analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif meliputi uji perubahan warna menggunakan pereaksi NaOH, HCl, dan H₂SO₄ serta kromatografi lapis tipis (KLT). Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis yang divalidasi melalui parameter linearitas, akurasi, presisi, batas deteksi (LOD), dan batas kuantifikasi (LOQ). Hasil identifikasi warna menunjukkan bahwa seluruh sampel saos tidak mengalami perubahan warna yang sesuai dengan karakteristik Rhodamin B setelah penambahan pereaksi NaOH, HCl, dan H₂SO₄, sehingga dinyatakan tidak mengandung Rhodamin B. Hasil identifikasi menggunakan KLT juga menunjukkan seluruh sampel tidak mengandung Rhodamin B. Validasi metode spektrofotometri UV-Vis menunjukkan linearitas yang baik dengan rata-rata koefisien korelasi (r) sebesar 0,9934, akurasi 101,5111%, presisi dengan nilai %RSD 1,105%, serta nilai LOD dan LOQ masing-masing sebesar 0,037 ppm dan 0,1123 ppm. Berdasarkan hasil penelitian, seluruh sampel saos yang diteliti tidak mengandung Rhodamin B dan metode yang digunakan telah memenuhi persyaratan validasi sehingga layak digunakan untuk analisis Rhodamin B.</p> oktavia sonia, Herlina, Neti Afriyani, Elly Mulyani Copyright (c) 2026 Oktavia Sonia, Herlina, Neti Afriyani, Elly Mulyani https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6843 Tue, 04 Aug 2026 16:03:37 +0000 EVALUASI RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNEUMONIA DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD dr. SAYIDIMAN MAGETAN https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6845 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pendahuluan</strong>: Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan bawah yang memerlukan terapi antibiotik, namun penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat meningkatkan risiko kegagalan terapi, memperpanjang lama rawat inap, dan memicu resistensi bakteri sehingga evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik perlu dilakukan. <strong>Tujuan</strong>: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, pola penggunaan antibiotik, mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik berdasarkan standar WHO (tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, dan tepat durasi), serta menganalisis hubungan rasionalitas penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap pasien pneumonia di RSUD dr. Sayidiman Magetan. <strong>Metode</strong>: Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif terhadap data rekam medis pasien periode September 2024–September 2025. Sebanyak 88 sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Evaluasi rasionalitas mengacu pada standar WHO (Kementerian Kesehatan RI) dan analisis hubungan dilakukan menggunakan uji <em>Pearson Chi-Square</em>. <strong>Hasil</strong>: Mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki (55,68%) dan berusia 76–86 tahun (34,09%). Penggunaan antibiotik kombinasi lebih banyak (54,55%), dengan cefoperazon tunggal (20,45%) dan kombinasi ampisilin-azitromisin (18,18%) sebagai regimen terbanyak. Ketepatan indikasi dan pasien mencapai 100%, tepat obat 63,64%, tepat dosis 85,23%, dan tepat durasi 71,59%. Terdapat hubungan bermakna antara rasionalitas penggunaan antibiotik dan lama rawat inap (<em>p</em>=0,044). <strong>Kesimpulan</strong>: Rasionalitas penggunaan antibiotik berhubungan signifikan dengan lama rawat inap pasien pneumonia sehingga kepatuhan terhadap pedoman terapi diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan dan mencegah resistensi bakteri.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Kata Kunci: antibiotik, rasionalitas, pneumonia, lama rawat inap</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em><strong><em>Introduction:</em></strong><em> Pneumonia is a lower respiratory tract infection that requires antibiotic therapy. However, irrational antibiotic use may increase the risk of treatment failure, prolong the length of hospital stay, and contribute to bacterial resistance. Therefore, evaluating the rational use of antibiotics is essential. <strong>Objective:</strong> This study aimed to determine the characteristics of pneumonia patients, identify patterns of antibiotic use, evaluate the rationality of antibiotic use based on the World Health Organization (WHO) criteria (appropriate indication, appropriate patient, appropriate drug, appropriate dose, and appropriate duration), and analyze the relationship between the rationality of antibiotic use and the length of hospital stay among pneumonia patients at dr. Sayidiman Magetan Regional General Hospital. <strong>Methods:</strong> This descriptive quantitative study employed a retrospective approach using medical records of pneumonia patients treated between September 2024 and September 2025. A total of 88 patients were selected using purposive sampling. The evaluation of antibiotic use was conducted according to the WHO standards adopted by the Indonesian Ministry of Health. The association between the rationality of antibiotic use and the length of hospital stay was analyzed using the Pearson Chi-Square test. <strong>Results:</strong> Most patients were male (55.68%) and aged 76–86 years (34.09%). Combination antibiotic therapy was more frequently prescribed (54.55%) than monotherapy, with cefoperazone monotherapy (20.45%) and the ampicillin–azithromycin combination (18.18%) being the most commonly used regimens. The proportions of appropriate indication and appropriate patient were both 100%, while appropriate drug, appropriate dose, and appropriate duration were 63.64%, 85.23%, and 71.59%, respectively. A statistically significant association was found between the rationality of antibiotic use and the length of hospital stay (p = 0.044). <strong>Conclusion:</strong> The rational use of antibiotics was significantly associated with the length of hospital stay among pneumonia patients. Adherence to antibiotic therapy guidelines is therefore essential to improve treatment outcomes and prevent the development of bacterial resistance.</em></p> <p><strong><em>Keywords: antibiotics, </em></strong><em>rational use, pneumonia, length of hospital stay</em></p> Riza Monasyifa Copyright (c) 2026 Riza Monasyifa, Wika Aji Setiana, Laela Febriana https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/FJFSK/article/view/6845 Tue, 04 Aug 2026 16:04:55 +0000